Betapa aku mengucap syukur sama Tuhan karena kebaikan-Nya. Dia menolong aku keluar dari berbagai masalah. Salah satunya adalah masalah yang sempat membuatku sakit secara perasaan.
Yap.. benar sekali. Ini masalah seorang cewe dengan seorang cowo..
Waktu itu aku bertemu dengan seorang pria yang sudah cukup umur. Dia berumur 1/3 lebih tua dari usiaku. Dia memang orang yang sangat baik. Dia bahkan sangat ramah pada semua orang, dan lebih spesial lagi ramahnya padaku.
Awalnya aku hanya menganggap dia adalah teman yang biasa saja. Maksudku, dia hanya akan menjadi temanku saja dan takkan lebih dari itu karena memang jarak yang akan memisahkan kita dan juga kesibukan masing-masing serta usia kita yang terpaut jauh. Pasti tidak akan ada hal-hal yang dapat membuat kita terlibat dalam suatu acara atau kegiatan sehingga kita bisa bertemu kembali dan saling berbagi cerita.
Singkat cerita,
Setelah beberapa hari bersama-sama dengan dia, aku merasa aku memiliki seorang teman baru yang baik dan ramah. Aku suka untuk memiliki suatu pembicaraan dengan dia.
Suatu hari, melalui jejaring sosial yang juga menjadi media penyambung pembicaraan kita, dia meminta nomor hp ku. Karena aku merasa aku sudah mengenal dia, aku memberikan saja nomor hp ku ke dia.
Akhirnya pembicaraan kita berlanjut. Seperti layaknya seorang teman baru yang hanya sebentar saja berpisah lalu bertemu lagi, seperti itulah rasanya ketika aku mendapatkan pesan singkat melalui nomor orang yang aku anggap teman baru.
Aku merasa senang. Sangat senang. Senang sekali hingga aku lupa akan kewajibanku. Sampai aku lupa untuk membaca Alkitab. Sampai aku lupa untuk berdoa. Bahkan karena dia, aku sampai ‘menduakan’ Tuhan.
Dosa.
Aku tahu itu dosa.
Tapi aku tetap melakukannya sampai beberapa hari..
Sampai pada suatu hari..
Ketika semua keadaan terlihat normal dan hubungan komunikasi yang kami lakukan terlihat biasa saja, tidak ada hambatan, Tuhan mengingatkan aku tentang hal ‘kesetiaan’.
Setiap membaca Alkitab, Tuhan seperti menegurku tentang hal ‘kesetiaan’.
Lalu aku mulai merenung.. merenung.. dan merenungkan tentang hal ‘kesetiaan’ itu sendiri..
Tiba-tiba timbul pertanyaan dalam benakku, ‘Mana mungkin ada pacar yang sayaang banget sama pasangannya yang gak marah kalo ngeliat pasangannya selingkuh!’
‘Emangnya diselingkuhin tuh enak apa?’
‘Inget! Kamu itu siapa? Jangan sampek deh kamu ditinggalin Tuhan Cuma gara2 masalah cowo kayak gitu!’
‘Cowo yang itu tuh udah jelas-jelas bukan dari Tuhan. Kok kamu pengen banget deket sama dia? Kalo sampek jadian gimana? Kamu mau mendukakan hati Tuhan?’
Pertanyaan itu seakan-akan muncul terus, terus, dan terus..
Menekan aku dan memaksaku untuk memilih..
Dan memang,
Aku akui kalo aku memang gak mampu jalan sendiri..
Aku butuh Tuhan..
Aku gak bisa kalo gak sama Daddy..
Kalau aku memilih pria itu, aku akan mendapatkan kesenangan dan juga pacar baru, tapi itu Cuma sesaat..
Tapi kalau aku memilih Daddy,
Aku gak bakalan sedih..
Aku akan dapetin yang namanya kesenangan dan juga kekasih jiwa ..
Karena Daddy lah yang selalu ada buat aku..
Karena Daddy lah yang selalu menopang aku..
Dad,
Aku belajar hal baru dari semua ini..
Aku belajar tentang arti kesetiaan, ketaatan, dan juga menjaga kekudusan..
Dad,
Terus pegang aku..
Aku gak mau jalan sendiri..
Aku mau jalan sama Daddy..
Aku gak mau bergeser sedikitpun, menjauh dari cinta-Nya Daddy..
Aku mau terus, terus, dan terus ada di pelukan Daddy..
Dad,
Mampukan aku untuk selalu menyenangkan hati-Mu..
Paksa aku untuk selalu ada dan menyenangkan hati-Mu..
Jangan sampai aku berubah setia karena dunia ini, Dad..
Dad,
Aku mengucap syukur karena Engkau sealu mengingatkan aku akan arti dari kesetiaan..
Aku mengucap syukur karena Engkau yang selalu memegang aku..
Aku mengucap syukur karena Engkau selalu mendidik dan mengukir hidupku..
Aku mau Dad..
Aku mau…
Didik aku terus, Dad..
Ukir hidupku menjadi indah..
Jadi indah seperti yang selalu Daddy mau..
Daddy..
Terimakasih Daddy buat semuanya..
Biar hidupku ini menjadi suatu persembahan yang kudus, mulia, berkenan, dan selalu menyukakan hati Daddy, My Beloved King..
-Yours-

0 komentar:
Posting Komentar